Kalau orang ditanya, ’Siapakah pejabat, apalagi pejabat era Orde Baru (Orba), yang tidak protokoler, tidak sok genting, berani bicara blak-blakan, segar candanya dan selalu terlihat intelek?’ maka jawabannya hanya satu: Fuad Hassan. Karena watak dan sikapnya itu pula sosok Fuad Hassan menjadi hampir satu-satunya "oase" bagi masyarakat terutama kelas menengah kota ketika harus menghadapi iklim berjarak dan "wibawa" yang dikembangkan para pejabat (Orba) terhadap masyarakatnya.
Berbagai sumber menyebutkan babwa Sejak SD hingga SMA, anak kedua kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 26 Juni 1929, dari empat bersaudara ini tinggal di Solo, Jawa tengah. Pada 1950 ia berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Awalnya Fuad muda bermaksud mengikuti tes masuk sekolah musik di Roma, Italia. Namun karena pengaruh temannya lebih meyakinkannya, ia mengurungkan niat itu lalu masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Hanya saja minatnya terhadap musik (biola) yang menurun dari ayahnya Ahamad Hassan-- seorang akuntan kantor pajak yang pernah belajar di King Fuad University yang biasa bermain mandolin-- dan ditekuninya sejak kecil tidak dapat dikubur.
Setelah lulus dari UI pada 1958, tiga tahun kemudian Fuad belajar Filsafat pada Universitas Toronto, Kanada. Namun gelar doktornya diraih di UI (1967), dengan disertasi berjudul Neurosis sebagai Konflik Eksistensial, yang kemudian dibukukan menjadi Kita dan Kami. Ia lalu menjadi guru besar pada Fakultas Psikologi UI.
Fuad pernah menjabat direktur pada Lembaga Studi Strategis Dewan Pertahanan Nasional, sejak 1972. Pada 1976, ia bertugas sebagai duta besar untuk Mesir, merangkap Sudan, Somalia, dan Jibouti. Dari Pemerintah Mesir, Fuad menerima Bintang Jasa Kelas I, dan Bintang Republik Kelas I. Kembali dari Mesir, 1980, ia menduduki jabatan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar Negeri. Selain itu, dua tahun kemudian, ia juga menjadi anggota MPR.
Fuad juga menjabat Direktur Lembaga Studi Strategis Dewan Pertahanan Nasional, mulai 1972. Pada 1976, ia bertugas sebagai duta besar untuk Mesir, merangkap Sudan, Somalia, dan Jibouti. Banyak orang Kairo sudah mengenalnya. ’’Ayah saya pernah belajar di King Fuad University yang sekarang disebut Universitas Al Azhar,’’ tuturnya. Waktu itu, ayahnya amat terkesan terhadap Mesir dan King Fuad, sehingga nama itu diberikan untuk sang anak. Dari Pemerintah Mesir, Fuad menerima Bintang Jasa Kelas I, dan Bintang Republik Kelas I.Kembali dari Mesir, 1980, ia menduduki jabatan Kepala Badan Penelitian & Pengembangan Departemen Melihat Luar Negeri. Selain itu, dua tahun kemudian, ia juga menjadi anggota MPR-RI.
Sebagai dosen UI, Fuad dikenal dekat dengan mahasiswa. Sebagai menteri dia dikenal mudah menerima para pelajar atau guru yang terkagum-kagum dan menginginkan tanda tangannya.
Sehari setelah dilantik menjadi menteri, 30 Juli 1985, Fuad masuk kantor pukul 09.00. Perabotan ruang kerja pendahulunya, tidak diubah sedikit pun. Kalau ada konotasi ’’ganti menteri ganti kurikulum’’, maka Fuad yang tidak doyan susu ini justru mencanangkan ’’stabilitas kurikulum’’ sampai akhir Pelita IV. ’’Gonta-ganti sistem dan kurikulum akan banyak menimbulkan keresahan masyarakat, anak didik, juga para guru,’’ katanya.
Administrasi juga dibenahi untuk menghilangkan Siap. Forum Pendidikan dan Kebudayaan pun dibentuk, yang anggotanya tokoh- tokoh pendidikan dan kebudayaan di masyarakat. Ide ini pernah dilakukan Fuad di Departemen Luar Negeri. Forum inilah yang dipakai untuk menumbuhkan gagasan, sekaligus menampung kecaman, kritik, yang meningkatkan mutu pendidikan dan kebudayaan.
Pendidikan nonformal, promosi doktor yang boros, jaminan guru, perkelahian antarpelajar, tidak luput dari perhatiannya. Bisnis skripsi pun dikecamnya. Di bidang seni, ia ingin membuat galeri nasional, yang memajang karya seni bangsa.
Menikah dengan Tjiptaningroem, 1958, Fuad dikaruniai dua anak. . Hobinya main biola tidak bisa dilepaskan. Menteri ini sering spontan mencoba biola pada suatu acara. Di rumah, tidak ada jadwal main biola. Tetapi, kalau sudah main, bisa lupa segalanya. ’’Bahkan pernah lupa ke kantor karena asyiknya,’’ tutur istrinya yang menjadi dosen di Fakultas Sastra UI.
JAKARTA, KCM
Kamis, 17 maret 2008
Kompas |